La Vie En Rose

Lifestyle. Motherhood. Beauty.

Monday, September 30, 2019

Pengalaman anak sekolah di Sekolah Insklusi

Assalamualaikum, 

Saya ingin berbagi pengalaman lagi seputar tumbuh kembang anak saya Fahri yang berkebutuhan khusus. Fahri sekarang berusia 5 tahun. Masih belum bisa bicara sama sekali dan ada indikasi autis ringan. Cerita sebelumnya tentang gejala fahri yang dimulai dengan speech delay sejak usia 1.5 tahun bisa dibaca sini Hanya Spech Delay atau ? Fahri sudah 2 tahunan mengikuti terapi yaitu terapi wicara dan sensori integrasi. Namun belum ada progess di bicaranya dan saat usia 4 tahun saya coba masukan ke sekolah playgroup dekat rumah bernama Twinkers yang 1 kelas hanya 4 orang jadi belajarnya lebih kepegang. Sudah ada progress dari perilakunya seperti sudah mau duduk diam belajar, menunjuk angka 1-10, namun belum ada progress bicaranya. Masih suara suara tidak jelas. Akhirnya saat usia 5 tahun saya mencari info sekolah Insklusi di Jakarta. 





Sebelum mencari info sekolah insklusi, saya sempat mencari info di TK umum daerah Pejaten, namanya kalau tidak salah Talenta. Saya langsung datang dan ketemu dengan salah 1 gurunya lalu saya ceritakan kondisi Fahri. Ternyata sistemmya dalam 1 kelas hanya boleh menerima 1 anak ABK dan wajib didampingi oleh shadow teacher, yang mana ada biaya tambahan. Itupun juga harus ada trialnya dulu dimana nanti sang anak akan "dinilai" apakah bisa masuk ke sekolahnya atau tidak bisa diterima. Which is udah bikin saya jiper duluan, dan entah apa saya yang terlalu baper apa gimana kok ibu guruya ngeliatin Fahri kayak ngeliat anak dengan penyakit penular. (moga moga cuma perasaan saya doank) ditambah lagi dengan biaya skolah yang agak lumayan untuk sekolah umum jadilah saya coret di list. 

Akhirnya pilihan saya jatuh ke Sekolah Aluna. Yaitu sekolah insklusi yang menggunakan metode montessori. Awal saya tahu sekolah ini malah dari salah 1 pembaca blog saya yang anaknya juga speech delay, lalu dia dm dan sharing sharing dengan saya, tersebutlah nama sekolah Aluna ini. 
Kebetulan letaknya juga masih tidak terlalu jauh yaitu di Kebagusan Pasar Minggu. At least ngga sejauh Bekasi atau Serpong. hehe. Karena saat pertama saya trial, kata gurunya banyak yang rumahnya jauh sekali seperti dari Pasar Uler, harus naik kereta, ada lagi yang dari serang dan mamanya setiap hari anter jemput ke sekolah :') MashaAllah saya bersyukur  banget setengah jam saja sudah bisa sampai karena termasuk daerah yang melawan macet. 

Sebelumnya apakah itu sekolah Insklusi ? Sekolah Insklusi adalah sekolah yang menggabungkan anak reguler dan anak kebutuhan khusus. Tujuannya adalah agar anak reguler bisa belajat empati dengan sesama dan yang ABK menjadi terpacu agar progressnya semakin baik. Sedangkan metode montessori merupakan kurikulum yang prinsipnya mengikuti perkembangan anak yang beda beda dan juga dalam proses belajarnya selalu ada bentuk konkretnya, jadi tidak hanya teori. Metode inilah yang dianggap paling tepat untuk ABK. 

Untuk di Sekolah Aluna ini memang mayoritas muridnya yang memiliki gangguan pendengaran, namun disana tidak menggunakan bahasa isyarat, jadi bagi anak yang memiliki gangguan pendengaran syaratnya jika ingin bersekolah disana harus menggunakan alat bantu dengar atau alat implan (yang konon harganya bisa sampai ratusan juga rupiah :') sehingga bisa mendengar dan berbicara. Tapi disana ada juga yang anak reguler atau anak ABG seperti Fahri yang masih speech delay. 


(to be continued....)



1 comment on "Pengalaman anak sekolah di Sekolah Insklusi"
  1. Waaaaait ._.

    Saya malah baru tau istilah sekolah insklusi itu ._.

    ReplyDelete

Salam,

Salam,