Lifestyle. Beauty. Motherhood

Lifestyle. Beauty. Motherhood

Thursday, December 1, 2016

Speech Delay Part 2

Kerena menjadi seorang ibu tidak hanya mengalami kesenangan saja. Tidak semua orang tahu bagaimana kenyataannya. Berawal saat Fahri demam tinggi seminggu yang lalu sampai 39.5 , ngga mau makan sama sekali, sampai akhirnya demamnya turun dan keluar bercak bercak merah yang diduga campak. Meski sudah sembuh dan pulih tapi rewel dan gampang cranky nya masih berlanjut sampai sekarang. Ditambah sampai sekarang Fahri belum bisa bicara. Usianya sekarang 2 tahun 5 bulan. (Sebelumnya bisa baca postingan saya di Speech Delay Part 1 ) Kalau untuk babblling seperti "aah.. awawawa... tatata...buabuabu atau ayi ayi" sih bisa. Tapi belum ada kata berarti. Jadi kalau dia minta sesuatu seperti susu hanya menarik tangan saya ke kulkas. Suka tantrum ngga jelas seperti nendang dan nangis kalau misalnya keinginannya ngga diturutin tapi saya sendiri ngga ngerti maunya dia apa. Bedanya suami saya lebih santai dan masih saja denial kalau Fahri tuh cuma telat ngomong karena keturunan. Hingga saya sempat ngedown dan nangis karena ketakutan sampai kapan Fahri kayak begini. 



Jadi 3 minggu yang lalu saya dan suami kembali membawa Fahri ke Klinik Tumbuh Kembang anak di Rainbow Clinic Kemang. Kali ini saya request untuk diobservasi oleh Dokter spesialis tumbuh kembang anak yang paling senior disana yaitu Dokter Amendi. Bersama dokter Berni yang sebelumnya pernah mengobservasi Fahri juga. Kemajuannya memang terlihat seperti sudah bisa salim, kontak mata lebih ada, diajak becanda juga bisa. Sampai akhirnya saya memberanikan bertanya apa diagnosa anak saya, mereka juga tidak menjudge. Intinya memang ada beberapa ciri autis (memang setiap anak pasti ada juga ciri cirinya) tapi masih ada juga pertimbangan Fahri hanya Speech Delay. Padahal terapi masih dijalanin seminggu 2x. Kalau untuk PAUD, sudah 2 bulan Fahri cuti dulu PAUD nya karena menurut saya Fahri masih kekecilan dan belum efektif. Dokter pun setuju dan menyarankan untuk menambah frekuensi Fahri terapi menjadi 3x seminggu. Yaitu ditambah untuk sensori integrasinya. Dan 1 lagi sarannya adalah : Harus Punya Adik ! naaah.. awalnya saya sempat mikir satu anak aja masih belum bisa ngomong apalagi nambah adik. Tapi justru menurut dokter inshAllah justru bisa menstimulasi Fahri untuk berbicara bila ada temannya di rumah. 

Kebetulan saya memang sudah ada target untuk program hamil kembali tahun depan. Bahkan sudah incer bulannya karea menurut kalender kehamilan cina jika hamil di usia dan bulan tersebut hasilnya jadi anak cewek. hehee (pede banget ya kayak pasti langsung dikasih aja abis program). Tapi apapun itu saya serahkan saja pada Allah. 

Saya curhat seperti ini bukannya berarti mengeluh atau mengurangi rasa sayang saya pada anak. Apapun yang terjadi saya akan semakin menyayanginya.  Smoga postingan blog ini nantinya akan menjadi kenang kenangan. Mungkin disaat Fahri sudah besar nanti. :)

Isn't He Lovely ? 


Lahap makan es krim sama bunda :D

Terima kasih sudah membaca :)

Salam


Inka




2 comments:

  1. Mba Inka, anakku juga dulu umur 2 tahunan masih belum bisa bicara jelas. Yang ngerti bahasanya cuma orang rumah aja. Di luar itu gak ada yg ngerti. Sampai umur 4 tahun juga masih blentang blentong bicaranya. Tapi sekarang usia 11 thn udah bawel dan lancar. Semangat ya mba....cayoooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Ellaa... makasih udah baca, makasih atas supportnyaa 😘😘 iyaa nih perlu ekstra sabar bundanya hehee amiiiin

      Delete