Lifestyle. Beauty. Motherhood

Lifestyle. Beauty. Motherhood

Wednesday, September 7, 2016

Hanya Speech Delay atau.. ?


That never ending question of life.. : Pacarnya mana ? kapan nikah ? kapan punya anak?  Pertanyaan basa basi yang kadang terasa sensitif bagi orang tertentu. Berhubung saya sudah jadi ibu anak satu, tentunya challenge nya yaitu adalah mengurus dan membesarkan anak dengan baik. Pertanyaan sensitif berikutnya saat punya anak : "Anak asi atau sufor ? Kok anaknya kurusan ? Kok belum bisa jalan?' dll.  Anak saya Fahri kini berusia 2 tahun 2 bulan. Lahir selamat dan sehat melalui proses cesar, seminggu sejak lahir sempat mengalami kuning (bilirubin hingga 16, normalnya 12) dan harus dirawat 2 malam di ruang sinar hingga bilirubin normal. Saya pun sempat mengalami baby blues sebulan pertama habis lahiran, belum lagi drama-drama asinya ga keluar, pas keluar cuma sedikit dan ga cukup juga, komentar2 sinis dan bikin panas kuping karena saya terpaksa memberi bayi saya sufor, kenyang deh ! haha. 
My sunshine :*

Alhamdulillah sampai usia sekarang Fahri termasuk anak yang jarang sakit, sekalinya sakit palilng hanya flu / demam yang dalam itungan harian udah sembuh lagi. Tapi ada keterlambatan tumbuh kembang pada dirinya. Di usia 2 tahun 2 bulan ini Fahri belum juga bisa bicara. Ya... bukannya ga bisa ngoceh ya.. bisa ngoceh2 tapi belum ada kata yang berarti. Manggil Ayah atau Bunda aja belum bisa :( 



Hanya babling seperti bahasa absurd bayi : Aba Aba, baba, hahe, Ayi, Eyi. Saya sudah notice dari usia setahun lebih, hingga saat imunisasi ke dokter anak langganan di RS JMC, sang dokter anak menyarankan jika sampai usia 1 tahun 6 bulan belum mengeluarkan kata yang bermakna harus di terapi di klinik tumbuh kembang anak. Fahri juga dianggap kontak matanya dengan agak kurang. Baiklah saat itu saya dengan semangat jalanin aja saran dokter karena menurut saya mumpung Fahri masih kecil jadi bisa diatasi keterlambatannya sejak dini. 

Berbekal browsing sana sini dan dan baca forum diskusi tentang speech delay pada anak, akhirnya saya mendaftarkan Fahri di Rainbow Clinic Kemang (Brawijaya Group). Karena lokasinya ga jauh dari rumah dan image brand "Brawijaya" terasa profesional apalagi ada dokter anak spesialisasi tumbuh kembangnya. Untuk observasi Fahri saja dengan 2 dokter yang hanya memakan waktu sekitar 15 menit, biayanya lumayan wow T.T (elus elus tabungan) dan akhirnya dokter menyarankan Fahri untuk terapi Sensori Integrasi seminggu 2x. Dianggap belum bisa ikut terapi wicara karena masih kekecilan dan masih susah fokus. Saat itu dokter tumbuh kembangnya belum berani memvonis diagnosa Fahri karena masih kecil dan butuh banyak evaluasi lagi setelah terapi. Hari pertama Fahri masuk ruang terapi terlihat excited dalam bermain, namun ketika namanya dipanggil susah nengok dan susah sekali kontak mata. Akhirnya saya pun diharuskan meninggalkan ruangan karena saat terapi berlangsung hanya boleh berdua dengan terapisnya. Ga lama Fahri nangis kencang banget saat saya berada di luar, sedih tega ga tega dengernya :'( Namun terapisnya menenangkan saya terus bahwa itu normal. Anak pada awal terapi suka nangis karena masih adaptasi, lama2 bakalan anteng. Sampai akhirnya sudah ke tiga kalinya terapi namun nangisnya semakin kencang, boro-boro bisa belajar bermain dengan tenang, diajak masuk ke ruang terapi aja Fahri udah kayak trauma, nangis, mau ngabur, padahal cuma diajak permainan seperti meluncur ke kolam bola, main ayunan, visioball,  puzzle dan lainya. Karena saya merasa terapi disana harganya mahal sekali dan anaknya juga ga enjoy akhirnya saya memutuskan pindah ke klinik tumbuh kembang lain yang lebih murah.

Di ruang tunggu Rainbow Clinic 



 Akhirnya nemu info dari instragam ada rumah terapi tumbuh kembang anak di duren tiga (lebih dekat dari rumah) namanya Isfina Centre. Yang mana biaya observasi dan per datangnya jauh lebih murah dari yang di Kemang (definetly for sure) . Terapisnya juga oke dan sabar-sabar, tempatnya lebih homey karena rumahan, metode dan tools nya juga sama dengan Rainbow Clinic, cuma beda merk, yang jelas setelah 2x terapi disini Fahri udah ga nangis lagi kalau saya tinggal. Alhamdulillaaaahh... seneng rasanya Fahri udah bisa senang dan nyaman disana :) Jadwalnya hari Rabu Terapi wicara, Jumat Sensori Integrasi. 3 bulan terapi disana meski belum langsung bisa ngomong tapi sudah ada kemajuan seperti kontak mata lebih baik, sudah bisa disuruh salim meski kadang harus dituntun.

 Tibalah jadwal imunisasi Fahri dengan dokter anak di JMC, lalu beliau menanyakan perkembangan bicara Fahri yang saat itu usianya 1 tahun 10 bulan. Saya jujur kalau masih belum bisa bicara yang bermakna, paling suka ngoceh ngoceh 'Ayi.. Ayi.." dan dengan santainya sang dokter bilang "Oh kalau bisanya huruf vokal aja berarti dia autis ringan bu... jangan makan coklat yaa... lanjut terus terapinya". Jantung ini rasanya kayak kesentrum. Di depan dokter dan di perjalanan pulang sih saya stay cool.. sudah siapin vonis yang terburuk kayak gitu. Sesampainya di rumah air mata saya baru pecah :( Ketakutan dan keresahan saya selama ini dijawab oleh Dokter anak. Sudah siapkah mental saya ? menerima kondisi anak yang berbeda dari anak anak seusianya,  dan harus ekstra sabaaaar.. dari segi perasaan, fisik, materi dll. 

Saya pun berkonsultasi dengan terapis yang biasa menghandle Fahri terapi, menurutnya sang dokter tersebut terlalu cepat memvonis Fahri, seseorang baru bisa men judge diagnosa autis pada pasien harus dengan observasi yang lama, ada uji kadar timbal di rambut, ga cuma melihat dalam beberapa menit saja. Menurutnya Fahri memang telat tumbuh kembangnya dari segi bicara dan responnya dibanding anak anak seusianya tapi tidak langsung di judge autis karena perilakunya  masih terlihat normal. Masih ada kontak mata, masih suka memeluk dan dipeluk saya (kebalikan dengan anak autis), masih suka main ciluk ba sambil ketawa ketiwi. Saya pun keep positive thinking dan akan berusaha sebaik mungkin demi tumbuh kembang Fahri.

Saat Fahri 2 tahun akhirnya saya dan suami memutuskannya ikut PAUD agar bisa lebih bersosialisasi dengan teman teman sebayanya, karena di tempat terapi metode nya one on one dengan 1 orang terapis di dalam ruangan sehingga terasa interaksi nya masih kurang banyak


First day Fahri at Paud Flamboyan
 
Mungkin banyak yang mengira ketika ortu ngepost foto anak pertama kali sekolah itu rasanya seru happy happy aja, kalau saya mah aslinya penuh dengan drama :)) dari mulai Fahri yang kaget nagis dengan suara ramai anak2 teriak saat nyanyi atau baca doa, drama minta digendong terus, ambil makanan anak orang, kalau ngambeknya kumat yang tiduran ngamuk2 di ubin -___-  dll. Tapi untungnya setiap diajak ke PAUD selalu mau sekolah, ga pernah pengen ngabur nangus minta pulang. Jadi saya nikmati aja setiap lelah dan letih mengantar dan nemenin Fahri di PAUD. Meski kadang ada suara-suara yang bikin sakit ati kayak "Oh kok umur segitu belum bisa ngomong ya... ? berarti orang rumahnya ga pernah ajak ngobrol nih... cucu saya aja baru setahun 8 bulan udah pinter nyanyi nyanyi... ngoceh ngoceh ngikutin kita ngomong.." Well. Judgement yang sok tau. Dan itu banyak. Jujur kadang ada perasaan kangen lagi sama dunia kantoran, tapi selalu inget anak masih belum bisa ngomong, apalagi kalo saya tinggal2 seharian. Usaha usaha pun udah pernah saya lakukan seperti bacain buku cerita, main mainan finger puppets, ajak nyanyi2 (yang mana konsennya masih minim, masih susah nyimak) memutus Indovision yang saat itu menayangkan Baby TV yg buat Fahri keasikan nonton, no gadget at all, saya ga pernah ngasih Fahri mainan gadget. Ga pernah ngasih jajanan mecin atau penggunaan MSG saat masak. Bikinin home made sensory toys buat aktifitasnya di rumah, sampai kredit prosotan anak, (pernah baca kalau bermain perosotan anak itu bisa merangsang sensori anak yang ada kaitannya dengan berbicara) , hingga akhirnya saya ikutin terapi di klinik tumbuh kembang anak yang juga butuhin kocek ga sedikit, mendadak dibikin down sama orang2 yang seenaknya nge-judge. Meski ga smua orang ngomong kayak gitu sih .. malahh ada juga yang komen "Ga usah terapi lah.. buang buang uang,,, sabar aja nanti juga bisa ngomong.." Atau yang paling netral dan nyaman didenger kayak "Tenang aja ga usah ngebanding bandingin anak kita sama anak orang lain, stiap anak itu cerdas di bidangnya masing masing." Untuk saat ini orang-orang yang paling saya nyaman untuk  berbagi adalah para ibu yang juga suka mengantar anaknya terapi, saya merasa tidak sendirian, tidak merasa dijudge, kami bisa sharing apapun tentang tumbuh kembang anak kami tanpa merasa down dibanding2 kan :)

Yang belum pernah saya coba yaitu ke pengobatan alternatif, katanya ada yang namanya Ibu Haji Busro, daerah Tebet jalan Rasamala 7 yang selalu ramai didatangi anak anak yang telat perkembangannya seperti telat jalan dan telat bicara. Metodenya dengan diurut dan juga kita diminta membawa daun sirih dari rumah untuk dikeprok ke mulut anaknya. (well, kalau yg keprok daun sirih sampai pernah saya cobain loh di rumah, dan blm ngaruh apa apa -__- ) Tapi untuk pengobatan alternatif ini kata suami saya nanti aja, kalau Fahri sampai usia 3 tahun blm ada progres baru dicoba. Sekarang ini jalani terapi aja.

Suami saya ini orangnya lebih santai dan ga terlalu panik kayak saya, dulunya juga pendiem. Kata mertua, suami saya itu speech delay juga, sampai umur 2 tahun belum bisa ngomong dan di terapi wicara juga. Itu yang membuat suami lebih santai 'Tenang aja bun mungkin fahri ada keturunan Aa, telat ngomong juga tapi skrg aa' baik baik aja kan." (malah rajin berbicara syiar alias ceramah :D ) Tapi entah lah mungkin feeling seorang ibu lebih sensitif, dan saya ga mau denial,  menurut saya selain bicara fahri yang delay,  hal yang lain seperti minim respon (kadang nengok kadang ga nengok kalau dipanggil), ga bisa diem dan susah fokus (agak khawatir ADHD atau hiperaktif). Ibu mana yang ga panik ngeliat anak anak lain usia dibawah Fahri yang udah bisa ngobrol dua arah, bisa nyanyi2, bisa hafal doa.  Kadang saya juga introspkesi apakah saya yang masih kurang benar dalam pola asuh anak, mungkin saya ga sejago dan seatraktif almarhum mamah yang selalu bawel ngajak ngomong anak anaknya, jadi inget sewaktu almarhum mamah masih ada, beliau selalu ngajak ngoceh Fahri "Pokoknya kalo Fahri nanti pinter ngomong, itu berkat Enin yaaa .. ^^" dan skrg Enin nya Fahri udah ga ada, Fahri pun belum bisa ngomong :') . Namun pernah baca juga kalau kondisi anak yang pada akhirnya dikategorikan "Berkebutuhan Khusus" itu bukan karena kesalahan pada pola asuh, namun memang karena faktor genetik. 

Apapun kondisi anak saya, saya akan tetap bersyukur dan yakin bahwa anak adalah titipan dan anugrah dari Allah yang harus disayangi, diasuh, dan dididik dengan benar.  Yang saya lakukan saat ini adalah tidak boleh putus asa, tidak boleh lelah, simpan stock sabar yang banyak. Doa saya tidak pernah putus untuk dijadikan istri dan ibu yang baik, doa untuk Fahri agar dijadikan anak yang sehat, baik, pintar, soleh, bisa dan pandai berbicara, lancar tumbuh kembangnya.  Amin :) 

Awal awal punya perosotan masih suka maen ^^
 




7 comments:

  1. Kak Inka, I almost cry baca post ini :") Aku gasabar buat baca cerita selanjutnya. Semoga Fahri cepat ngomong dan bawel :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiinn... hope everthings gonna be well :) makasih dear cyndi udah mau baca,
      jarang lho ada anak ABG yang mau baca curhatan ibu ibuk. hihi

      Delete
  2. baru liat blog nya kape, trus tertarik baca tulisan yang ini... don't know why, gw selalu tertarik baca2 artikel tentang anak daripada baca2 artikel tentang fashion ( yaiyalah, udeh emak2 anak 2 *lol* ).
    Semangat ya pe, setiap anak punya kepintarannya masing2, dan ga akan pernah sama.
    Dan jangan pernah dengerin komen2 org nyinyir diluaran sana, karena sebagai orangtua ( ibu khususnya ), ga akan pernah memberikan hal yang buruk untuk anaknya.

    Semangat ya Kapeeee :-*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampuuun Nisaaa.... sekalinya komunikasi via sosmed langsung nongol di Blog... hihi setujuuu.. amin makasih yaaa nisaaa :*

      Delete
  3. hehehe... iya pe... udah lama punya blog, tapi ga bisa nge blog, wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahah buat kepo atau silent reader aja yah niis.. bikin doonk.. hehe

      Delete
  4. Bun, saya mau tanya, sekarang masihkah terapi di Isfina Centre? Kebetulan dekat dgn rumah saya jg. Bagaimana kemajuannya selama disana? Anak saya jg krg lebih sama.

    Makasih ya bun sebelumnya.

    ReplyDelete