Lifestyle. Beauty. Motherhood

Lifestyle. Beauty. Motherhood

Thursday, August 11, 2011

TCHAIKOVSKY "The Romantic"


Senin, 8 Agustus 2011.

“Tik.. tok.. tik.. tok..” Sabtu jam 19.15, gue seorang diri di Pusat Perfilman Umar Ismail lagi senewen2nya menunggu teman-teman yang habis buka puasa di Heart Chicken Buffet Pasar Festival. Konser Twilite Youth Orchestra berjudul TCHAIKOVSKY “The Romantic” dimulai jam 19.30 dan gue takut kejadian gue telat dateng nonton Orchestra terulang dimana sebelum lagunya selesai, penonton yang telat ga boleh masuk. Lalu munculah sang Maestro Addie MS masuk ke Lobby, sendirian, dan dengan kebiasaan jelek gue kalo ketemu idola : Malah sok2 gue cuekin (sebenernya ngefans tapi grogi).




Ya, gue begitu excited menonton konser itu karena kebetulan banget, nontonnya sama teman2 yg gue kenal dari komunitas Beatlemania. Ada Lia, Fery, Rizko, Iqbal, Amy dan Tuta. Malam itu juga bisa dibilang farewellnya Iqbal sang Paul McCartney nya Plastic Soul karena keesokannya dia harus berangkat ke Prancis untuk studi S2 nya. Ga ngerti suatu kebetulan atau gimana, kita sebagai Beatlemania sama2 suka dengan musik klasik. (kebetulan lagi gue, Lia dan Fery sama2 Harry Potter's Hatters) haha. Hemh tapi disini pun gue hanyalah seorang penonton awam, yang suka musik klasik karena dari umur 4 taun gue diikutin les ballet yang tentunya selalu pakai musik klasik. Ya, krn sampai skarang pun jujur gue msih susah bedain yg namanya Simphony, Sonata, atau Concerto. Haha.

Oke, di blog ini pun gue ga mencoba mengkritisi karya2 nya TYO krn emg gue cuma kaum awam yang cuma bisa nulis apa yang gue rasain dan gue liat. (Blogger amatir). Sang Conductor datang, beliau lah Eric Awuy, blateran Jerman yang juga seorang Principal Trumpet di Twilite Orchestra dan Program Directornya TYO. Dan teman yg duduk sebelah gue lgsg berbisik “Weiitts... Beethoven banget!” Begitupun saat karya Tchaikovsky yang pertama dimainkan (Capriccio Italian Op. 45) sang conductor terlihat begitu berapi-api.
Sesekali mukanya begitu ekspresif dalam mengarahkan murid-muridnya. Meskipun gue belum pernah liat Beethoven, (cuma lewat foto) dari tampak belakang dan tampak samping sang conductor, ngerasa aura dan sosoknya seperti Beethoven beneran.
Eric Awuy & Twilite Youth Orchestra


Lalu di lagu kedua “Flute Concerto No.2 in D Minor” dari Mozart. Muncul seorang anak muda berkaca mata yang handal banget maenin flute. Namanya Gratianus Wesley P.D (principal) Ternyata dia lahir taun 1992 (umur 19 tahun) dan skrg masih jadi mahasiswa di ITB jurusan Fisika. Gue cuma bisa komentar ni orang pasti luar biasa jenius. Lagu ini tedengar lebih ceria dan cheer up. Beberapa hari yg lalu sebelum konser, seorang teman yg ikut nonton juga bilang gini : “Ka, ga papa ya gue sebenernya ga ngerti musik klasik, cuma pengen ngerasain nontn konser yang beda aja”. Ternyata pas baru beberapa detik lagunya dimaenin, temen gue lgsg berbisik nebak : “Ini pasti karyanya Mozart yaa? Biramanya ¾. Cirinya lagu2 Mozart ada suara2 string kayak gitu”. Heeehm ternyata teman gue ini jauh lebih paham dari gue. Baru ngeh, tentu saja, teman saya itu kan guru seni musik. Hihi. Jadi inget jaman SD dulu, gue diikutin kursus Electone sama nyokap. Mungkin hari gini udah ga ada electone = semacam orgen yang terdiri dari 2 tingkat (atas buat melody) bawah buat chord dan ada pedalnya. Terdiri dari 7 pedal sesai sama 7 nada. Selama 5 tahun gue les, perrnah beberapa kali tampil konser. Satu lagu yang paling gue hafal sampai sekarang cuma 1 yaitu Turkish March nya Mozart. (itu doank) haha. Pernah juga konser ensemble dimana 1 grup terdiri dari 5 orang. Gue pun kebagian megang chord. Bawain lagunya Strauss “Blue Danube” Selama latihan berbulan-bulan lancar, dan ketika konser.. Shit happens ! Saat di panggung, electone beberapa teman2 sound nya eror dan kecil banget. Alhasil cuma suara Chord dari gue lah yang kedengeran ! Haha. “DUNG TEK TEK DUNG TEK TEK” tanpa ada melodynya. Hancur lah. Untung pas itu gue masih kecil, untuk berani tampil di depan umum aja udah sukur. Hehe.

Oke, balik ke konser TYO lagi, setelah istirahat, lanjut lagu yang ketiga “Cello Concerto in E Minor
Op. 85. Muncul lagi anak muda, seorang principal bernama Rahman Noor. Yang tentunya jago bgt maen cello. Dia lahir tahun 1988 (baru 23 tahun) dan sudah kepilih jadi anggota Twilite Orchestra, pengajar cello, dan menulis beberapa karya musik. *yang muda yang berbakat*. Asli salut.

Karya berikutnya berjudul “Frates” dari Aroo Tart. Mr. Eric Awuy pun sempat prolog, (dengan logat kebule-bulean tapi Bahasa Indo yang lancar) kalau beliau sendiri pun awalnya ga kenal dengan karya ini. Kuping gue pun rasanya terdengar asing dan kontemporer. Tapi tetap kerasa keren. Apalagi sang principal wanita muda cantik bernama Ken Lila yang canggih memainkan violin.

Nah karya terakhir yang gue tunggu2 adalah Romeo and Julliet Overture dari Tchaikovsky. Gue sempet salah menebak lagu, gue kira karya Romeo and Julliet ini adalah lagu ballet yg suka gue liat di ballet Romeo and Julliet. (yang ternyata adalah lagu dari Provokiev) Awalnya emang terdengar agak-agak asing, sampai agak-agak di akhir, akhirnya terdengar familiar juga. Yang gue bayangin saat itu adalah balletnya Romeo and Julliet. Hehe.

Karya terakhir pun selesai, dengan maksud mengapresiasi mereka, gue sempet teriak2 ala abg nonton konser (sumpah gue lupa kalo nonton Orchestra mah ada etikanya ga boleh teriak2 kayak gitu), haha. Temen gue pun sempet ngsusulin “kalo kita ngomong encore encore gimana? Supaya ada bonus lagu.” Ternyata penonton pun sembari tepuk tangan, tapi tepuk tangannya teratur dan ada ketukannya gitu, ternyata itu adalah “cara” bagaimana meminta “Encore”. Dan benar aja, sang Mr. Awuy balik lagi ke stage dan membawain lagi lagu pertama mereka, kali ini energinya terasa 2 kali lipat lebih semangat membara. Gue pun sempet colongan ngerekam-rekam di HP. Over all, gue salut banget sama anak-anak muda yang bisa tampil di TYO. Jadi inget gimana seorang temen, pernah gue ajakin nonton gratis Cantabile nya Twilite Orchestra dan dia malah bilang “Yah kalo nonton Orchestra mah yang ada gue tidur”

Dan setelah konser selsei, gue dan teman-teman makan sempat makan di sbuah resto Fast Food yg dipenuhi ababil. Disana kita bahas konser tadi. Senangnya punya teman-teman yang mengerti seni. Beruntungnya gue karena sejak kecil, nyokap gue udah nyekokin gue kegiatan seni kayak les ballet, les orgen, dimana rasa cinta seni gue udah tumbuh dari dulu. Next target gue dan temen-temen pengen nonton lagi orchestra, kalo bisa di Aula Symphonia Jakarta yang super megah itu :)

With Plastic Soul and Friends

What a night :)

No comments:

Post a Comment